Wednesday, April 9, 2025

Kashi & Akash di “Saudade”: Dua Luka yang Bertemu di Tengah Jalan Pulang



"Cinta yang paling diam-diam adalah yang lahir dari luka—ia tak berjanji akan menyembuhkan, tapi bersedia menemani."

Ada yang berbeda dari hubungan Kashi dan Akash dalam serial Saudade. Tidak ada deklarasi cinta yang berlebihan. Tidak ada janji manis untuk sehidup semati. Yang ada hanya dua jiwa yang patah, saling melihat dalam hening, dan tanpa sadar mulai menjadi satu sama lain’s safe place.

Kashi Rayshiva adalah potret gadis remaja yang tiba-tiba harus tumbuh terlalu cepat. Ia dikhianati oleh dua orang yang paling ia percaya—Daffa, kekasihnya, dan Rasty, sahabatnya sendiri. Pengkhianatan itu bukan cuma menyakitkan, tapi juga membingungkan. Ia tidak tahu harus marah ke siapa, dan akhirnya hanya diam, membiarkan luka itu tumbuh di dalam dadanya.

Lalu datang Akash Angkasa, adik dari Daffa. Anak laki-laki yang awalnya tampak seperti gangguan kecil dalam hidup Kashi. Cerewet, ngeselin, nyebelin. Tapi di balik semua tingkahnya, Akash punya mata yang penuh perhatian, senyum yang menyimpan empati, dan cara-cara kecil untuk bilang "aku ada di sini" tanpa harus berkata apa-apa.

Hubungan mereka tumbuh bukan dari cinta pada pandangan pertama, melainkan dari pertemuan yang berulang-ulang. Dari percakapan yang awalnya saling sindir, lalu perlahan berubah jadi saling dengar. Dari momen-momen kecil—seperti duduk berdampingan di bangku taman, saling mengeluh soal hidup, hingga diam bersama ketika kata-kata terasa tak cukup.

Yang membuat hubungan ini begitu menyentuh adalah kenyataan bahwa Akash tidak pernah mencoba “memperbaiki” Kashi. Ia tidak mencoba menghapus masa lalunya. Ia hanya hadir. Dengan caranya sendiri, ia menunjukkan bahwa Kashi tidak sendirian, bahwa tak apa untuk masih sakit, tak apa untuk belum move on, dan tak apa untuk tetap merindukan seseorang yang sudah menyakiti.

"Saudade" sendiri berasal dari bahasa Portugis—maknanya: kerinduan yang dalam terhadap sesuatu atau seseorang yang telah pergi, tapi tetap hidup di hati. Dan Kashi adalah cerminan dari kata itu. Ia tidak sekadar patah hati, ia menyimpan saudade—pada Daffa, pada versi dirinya sebelum terluka, dan pada kepercayaan yang dulu ia punya.

Sementara Akash adalah kebalikan dari semua itu. Ia mungkin bukan cinta yang Kashi harapkan, tapi justru cinta yang ia butuhkan. Cinta yang tidak mendesak. Tidak menuntut. Hanya hadir, dan tetap tinggal.

Kisah Kashi & Akash bukan kisah cinta yang instan. Ini adalah cerita tentang proses. Tentang bertumbuh bersama, dan tentang belajar membuka hati kembali—meski takut, meski ragu, meski masih sakit.

Kisah mereka mengajarkan bahwa cinta sejati bukan tentang siapa yang datang lebih dulu, tapi siapa yang tetap tinggal ketika semua orang sudah pergi.

No comments:

Post a Comment